PROFIL

Foto saya
Tasikmalaya, Jawa barat, Indonesia
Visi : Menjadikan Arsip dan Perpustakaan Sebagai Pusat Informasi

Rabu, 10 Maret 2010

PERPUSTAKAAN KOTA TASIKMALAYA VS PERPUSTAKAAN INDRAMAYU

FENOMENA INDRAMAYU DAN PERPUSTAKAAN
Oleh:
Suherman
Pustakawan Berprestasi Terbaik Jawa Barat
Capaian prestasi yang diperoleh Kabupaten Indramyu, sebagai daerah yang berhasilan melakukan lompat IPM tertinggi di Jawa Barat, patut dijadikan pelajaran oleh kita semua bahwa pengaruh keberaksaraan atau literasi sangat signifikan dan fundamental dalam kemajuan daerah. Capaian tersebut juga boleh dikatakan revolusioner karena waktu yang diperlukan begitu singkat. Pada tahun 2006 Indramayu tercatat sebagai daerah nomor satu yang masyarakatnya paling banyak menderi buta huruf di Jawa Barat . Selain itu juga pernah dilansir penelitian bahwa Indramayu adalah daerah yang paling banyak “mengekspor” wanita tuna susila ke daerah lain di Jawa Barat dan DKI. Mungkin ini juga mengindikasikan bahwa ada korelasi antara keberaksaraan dengan tingkat kerawanan sosial. Pada tahun ini juga Indramayu mendapat penghargaan paling bergengsi dalam bidang keperpustakaan serta berhasil dinobatkan sebagai juara pertama lomba perpustakaan umum tingkat Provinsi Jawa Barat.
Indikator Kemajuan
Selain IPM (Indeks Pembangunan Manusia), sesungguhnya keberadaan perpustakaan pun dapat dijadikan indikator kemajuan sebuah daerah, negara, bahkan peradaban sebuah bangsa atau pun untuk mengetahui tingkat kemajuan intelektual—yang biasanya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan—seorang individu. Sudah dapat dipastikan bahwa negara maju adalah negara yang paling memuliakan perpustakaan dan sebaliknya negara-negara terbelakang adalah negara yang sangat tidak peduli terhadap keberadaan perpustakaan. Dalam sebuah kesempatan presentasi di sebuah perguruan tinggi yang membuka jurusan ilmu perpustakaan terkemuka di Jawa Barat, penulis menampilkan foto-foto ruang utama dan desain bangunan Library of Congress Amerika Serikat. Dari semua peserta yang hadir tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa foto yang ditampilkan adalah foto perpustakaan. Karena Library of Congress lebih mewah dan berwibawa dari istana kepresidenan. Dari sini dapat dilihat bahwa negara adikuasa ini pantas menjadi penguasa dunia karena begitu pedulinya terhadap perpustakaan, yang pada hakikatnya sangat peduli terhadap buku dan minat baca masyarakatnya. Maka perkataan sang filusuf Francis Bacon “knowledge is power” sangat nyata kebenararannya.
Dalam skala pesonal, kita juga dapat melihat kualitas seseorang dengan melihat koleksi atau keberadaan buku, dan kalau ada, perpustakaan pribadinya. Sudah dapat dipastikan bahwa sebuah rumah yang memiliki perpustakaan pribadi adalah keluarga yang maju dan secara material berkecukupan. Tapi apa yang kita lihat di masyarakat kita adalah rumah-rumah sebagian besar steril dari bahan bacaan, termasuk rumah-rumah yang kelihatan mentereng. Sebaliknya, sejelek apa pun rumah seseorang, pesawat televisi itu pasti punya. Maka sebuah penelitian yang dilansir media massa setahun yang lalu bahwa 85,9% masyarakat kita mendapatkan informasi dari televisi sangat tidak riragukan. Celakanya, dalam penelitian Jalaluddin Rakhmat media yang sangat tidak dipercayai kesahihan beritanya di kalangan kaum intelektual adalah televisi. Dengan demikian masyarakat kita adalah masyarakat yang berbasis pada informasi yang tidak valid atau isyu dan gosip. Ini tidak jauh beda dengan perilaku masyarakat yang sebagian besar berbudaya ngoborol atau chating society bukan reading society. Di tempat-tempat umum biasanya telinga kita terganggu dengan gaduhnya orang-orang yang ngobrol baik melalui HP maupun bertatap muka dan pandangan kita akan sepi dari melihat orang-orang yang sedang membaca.
Yang tidak kalah menariknya adalah perpustakaan pun dapat dijadikan sebagai indikator kualitas kepala daerah. Semakin terpelajar seorang kepala daerah biasanya akan semakin peduli terhadap perpustakaan atau sumber belajar. Indikator ini kita dapat lihat pada diri H. Irianto MS Syarifudin yang belum lama ini memperoleh gelar doktor dengan predikat cum laude. Hal serupa juga terjadi di daerah lain seperti Halmahera Selatan dengan bupatinya Muhammad Katsuba yang juga meraih gelar doktor dengan cum laude atas kajiannya tentang manajemen berbasis nilai yang dia terapkan di daerahnya. 
Keaksaraan Fungsional?
Prestasi lain yang patut diberikan apresiasi kepada Indramayu adalah keberhasilan spektakulernya dalam menurunkan angka buta aksara dengan drastis. Dan mudah-mudahan dapat merawat dan meningkatkannya menjadi masyarakat yang gemar membaca. Karena kalau kita perhatikan banyak orang yang keliru memaknai keaksaraan fungsional hanya sebatas pada pemberantasan buta aksara atau buta huruf. Padahal sejatinya setelah terbebas dari derita buta aksara dilanjutkan pada bagaimana dapat mengerti atau faham terhadap apa yang dibacanya, dan dalam tingkat yang lebih ideal adalah memberikan sebuah kesadaran kepada diri si pembaca tentang apa yang telah bacanya. Karena tidak secara otomatis orang yang melek huruf meningkat pula kesejahteraannya. Kita dapat menyaksikan sendiri sekarang ini tenatang fenomena yang disebut dengan pengangguran “intelektual” atau pengangguran “terdidik” dengan dampak sosialnya tersendiri. Penulis sengaja membubuhkan tanda petik di kedua kata setersebut karena sangat rancu. Menurut penulis orang-orang intelektual atau terdiri tidak mungkin menganggur, yang ada adalah penganggur tamatan lembaga pendidikan baik perguruan tinggi maupun sekolah. Mereka semua jelas tidak buta huruf atau tidak bisa membaca tapi yang pasti mereka tidak mengerti atau tidak faham apa yang diajarkan di sekolah atau di PT, jangan-jangan mereka pun tidak mengerti mengapa mereka mesti sekolah atau kuliah serta para pengerjarnya pun tidak faham tentang apa yang mereka ajarkan. Karena sangat banyak yang mendorong seseorang memasuki lembaga pendidikan hanya untuk mendapatkan selembar ijazah atau sederet gelar akademik, bukan untuk mencari ilmu pengetahuan. Serta banyak para pendidik yang mengajar sebatas kewajiban dalam pekerjaan atau bukan panggilan hidup atau kecintaan terhadap profesi yang oleh Renald |Khasali disebut dengan guru inspiratif
Kegiatan keaksaraan fungsional yang sangat bagus pernah dicontohkan oleh Amir Hamzah Nasution, konsultan UNESCO yang dijuluki “Sang Penggagas” pada tahun 1960-an dalam memajukan dunia perpustakan di Indonesia. Beliau ini sangat patut diperkenalkan terutama kepada para generasi muda. Gagasannya mengenai pendidikan masyarakat melalui metode mendekatkan buku dan perpustakaan kepada masyarakat perlu digali dan dikembangkan kembali pada saat ini, misalnya melalui seminar atau workshop. Juga, kiprah beliau di manca negara dalam rangka mengentaskan buta aksara (functional illiteracy) terutama di negara-negara Afrika sehingga mampu meningkatkan daya berpikir rakyatnya yang pada gilirannya mampu melahirkan gerakan-gerakan perlawanan terhadap penindasan dan kezaliman. Pandangan-pandangannya sangat penting direvitalisasi untuk dijadikan teladan bagi para aktivis sosial kemasyarakatan. Perkataan beliau yang masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia pada saat ini adalah : “ National building itu bergantung juga kepada kemampuan membaca rakyat dan adanya perpustakaan. Untuk itu harus ada tindakan-tindakan. Hal ini menjadi lebih mendesak, karena sekarang jumlah rakyat yang buta huruf dan putus sekolah terus bertambah, kekurangan guru meningkat dan gedung sekolah banyak yang ambruk. Padahal bangsa kita kaya raya.” (Harahap, 1998: hal. 59)

Fungsi Perpustakaan
Fungsi utama perpustakaan adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Tentu saja untuk melakukan fungsi ini tidak cukup hanya dengan melakukan layanan simpan-pinjam bahan bacaan (sirkulasi) dan menunggu pemustaka atau pengunjung datang ke perpustakaan. Akan tetapi perpustakaan harus proaktif dalam menarik minat masyarakat untuk datang berkunjung ke perpustakaan. Sekarang ini perpustakaan wajib hukumnya menjadi pusat kegiatan masyarakat dan pengelolaannya harus dikelola dengan menerapkan manajemen modern. Yang lebih penting lagi pengelolanya (pustakawan) juga harus berubah dari sekedar penjaga buku menjadi garda pengetahuan. Program dan kegiatan yang dibuat harus mampu menarik masyarakat untuk berkunjung atau menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca buku untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dewan Perpustakaan
Kegitan keasaraan fungsional seharusnya menjadi program perpustakaan berdampingan dengan program peningkatan minat baca. Tidak seperti yang terjadi sekarang ini, dimana keaksaraan fungsional menjadi bidang garapan dinas pendidikan sedangkan peningkatan minat baca ada dibawah badan perpustakaan. Selain itu juga terjadi egosektoral, dinas pendidikan menggarap perpustakaan sekolah sedangkan badan perpustakaan daerah hanya mengurusi perpustakaan umum. Dalam hal ini harus ada “pihak ketiga” yang dapat mensinergikan masalah keperpustakaan sehingga terjadi sinkronisasi dan harmonisasi dalam membangun masalah keperpustkaan (libaray and librarianship). Untuk itu pembentukan Dewan Perpustakaan Daerah sebagaimana diamanatkan dalam UU No.43 tahun 2007 tentang Perpustakaan harus segera direalisasikan oleh Bapak Gubernur Jawa Barat. 
Sumber :http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/fenomena-indramayu-dan-perpustakaan?start=2 

KAMI SANGAT HARAPKAN PERHATIAN PEMERINTAH KOTA TASIKMALAYA TERHADAP KANTOR ARSIP DAN PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA SAMA DENGAN PERHATIAN PEMERINTAH KABUPATEN INDRAMAYU, SEMOGA...

Selasa, 09 Maret 2010

Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Periode 2009 - 2012


Jakarta,
Kongres Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) ke XI yang diselenggarakan di Batam pada tanggal 19 - 22 Oktober 2009, telah memilih Drs. H. Supriyanto, M.Si sebagai Ketua Umum menggantikan Ketua umum Periode lalu Daddy P. Rachmananta, MLIS. Selanjutnya pada hari Kamis, 11 Februari 2010 bertempat di Aula Perpusnas RI - Jalan Medan Merdeka Selatan No.11 Jakarta Pusat, Ketua umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia Periode Tahun 2009 - 2012 melantik personalia kepengurusan PP-IPI.

Supriyanto yang juga mewakili Plt Kepala Perpusnas Liliek Soelistyowati menyatakan bahwa salah satu indikasi dari bangsa yang cerdas adalah semaraknya perpustakaan, bukan hanya gedung yang megah atau koleksinya yang lengkap, tapi bagaimana perpustakaan itu dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh masyarakat melalui layanan yang diberikan.Perpustakaan di era globalisasi tidak lagi di ukur dari banyaknya koleksi, tapi lebih pada akses atau kemudahan mendapatkan informasi tanpa dibatasi oleh ruang, jarak dan waktu. Perpustakaan mempunyai fungsi dan peran yang strategis sebagai sentra layanan informasi masyarakat dan penyangga dunia pendidikan di sekitarnya serta sumber belajar sepanjang hayat bagi masyarakat. Luasnya geografis Indonesia dan terbatasnya jangkauan pembinaan perpustakaan terutama di luar Pulau Jawa, yang dihuni sebagian besar masyarakat Indonesia, mengakibatkan pembinaan perpustakaan belum merata.

Tantangan bagi IPI sebagai wadah profesi pustakawan untuk berperan aktif dalam masyarakat seperti yang diamanatkan dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan saat ini cukup kompleks. Pengurus IPI sekarang ini sudah saatnya harus bangkit, kalo tidak mau tergusur. IPI harus berjuang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas serta profesionalisme pustakawan Indonesia.
Mencermati hal tersebut, IPI yang telah berusia 37 tahun, dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam program-programnya, sehingga kiprah pustakawan dapat dirasakan perannya oleh masyarakat. Di tingkat nasional, aspirasi daerah dalam semangat otonomi, menjadi peluang untuk bermitra dengan pemerintah daerah dan organisasi profesi lainnya.
Di tingkat regional, IPI menjadi anggota aktif dalam CONSAL (Congress of Southeast Asia Librarians) dan di tingkat internasional, IPI juga menjadi anggota aktif IFLA (International Federation of Library Organization and Institution). “Untuk itu, yang perlu dilakukan IPI saat ini adalah memperkuat posisi dan eksistensinya dalam masyarakat, “ lanjutnya.

Daftar nama Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (PP-IPI) Periode 2009-2012 adalah sebagai berikut:

Dewan Pembina: Kepala Perpustakaan Nasional, H. Hernandono MLS, MA., Prof. Dr. Sulistyo Basuki, Dra. AA. Kalangi Pandey, WW. Sayangbati Dengah, Drs. Paul Permadi.

Ketua Umum : Drs. H. Supriyanto, M.Si
Wakil Ketua : DR. H. Zulfikar Zen, MA
Ketua I : H.T. Syamsul Bahri, SH.,M.Si
Ketua II : Dr. Ujang Tholib, MA
Ketua III : Dra. Hj. Harkrisyati Kamil
Sekretaris Jenderal : Drs. H. Bambang Supriyo Utomo, M.Lib
Sekretaris : Markus Tendean, S.Sos
Bendahara : Johartien Ramona, SIP
Wakil Bendahara : Ir. Djati Wahyuni, MM

Komisi Organisasi & Keanggotaan :
Drs. H. Widiyanto, MSi., Sujono Harjosaputro, SIP., Drs. Ahmad Fauzi Asran, Dra. Hj. Budhiati, MM.

Komisi Penerbitan dan Publikasi:
Kosam Rimbarawa, MLS., Dra. Utami B Haryadi, M.Lib.,M.Si, Drs. Agus Sutoyo, MSi., Dra. Lies Suliestyowati, MSi.

Komisi Pengembangan Pendidikan, Pelatihan dan Sertifikasi:
Dra. Hj. Woro Titi Haryanti, MA., Dra. Hj. Luki Wijayanti, MSi., Dra. Titiek Kismiyati, MHum., Drs. H. Ahmad Masykuri, MM.


Komisi Usaha Dana :
Hj. Siti Mardiyah, S.Sos.,MSi., Dra. Winda FM Habimono, Drs. H. Sudirwan Hamid, MH., Robinson Rusdi, SH.,MH.

Komisi Pengabdian Masyarakat dan Pembudayaan Kegemaran Membaca: Drs. Deni Kurniadi, M.Hum., M. Ihsanudin, M.Hum., Drs. Arifin Hidayat, MM., Dra. Fuad Munir, MSi.

Komisi Pengembangan Citra:
Drs. Fuad Gani, MA., Dra. Arifah Sismita, M.Si., Dra. Lucy Dhamayanti, M.Hum., Dra. Harmaini HNS.

Sekretariat:
Dra. Nani Suryani, Afrison S

Sumber : pnri.go.id
oleh: rudianto, 17 Februari 2010

Kamis, 04 Maret 2010

Arsip Sejarah

Sebuah arsip dan menghadirkan kembali sebuah peristiwa perjuangan Bangsa ini yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu. salah satu contohnya adalah dokumentasi kegiatan Konfrensi Meja Bundar di Belanda.
Sumber : www.anri.go.id

Sumber : www.anri.go.id
 
Sumber : www.anri.go.id

Rabu, 03 Maret 2010

Lokasi Perpustakaan Daerah Kota Tasikmalaya tidak Strategis

Keberadaan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat lokasinya dinilai tidak srategis untuk dapat didatangi warga masyarakat.
 
Drs. Dadang Samsul Huda, M.Si.

"Perpustakaan disini itu sudah cukup memadai, tapi lokasinya tidak strategis, sehingga saya rasa masyarakat malas untuk datang ke sini," kata Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Tasikmalata, Dadang Samsul Huda, Senin.

Kantor Perpusda berada di jalan Ir Juanda diantara komplek perkantoran dinas cukup jauh dari pusat keramaian kota Tasikmalaya, dan jauh dari pinggir jalan raya.
 
Lokasi Perpustakaan Kota Tasikmalaya saat ini

Selain itu kata Dadang jalan Ir Juanda tidak terlalu banyak dilewati angkutan umum, sehingga masyarakat yang ingin berkunjung ke perpustakaan daerah terkadang malas.

"Idealnya perpustakaan daerah itu ada di pusat kota yang mudah diakses masyarakat," katanya.

Ia berharap keberadaan perpustakaan daerah berada di sekitar masjid Agung atau berdekatan dengan banyaknya aktifitas masyarakat di pusat kota Tasikmalaya. Kami mengharapkan bila nanti ada penyerahan aset dari pemerintah Kabupaten Tasikmalaya ke Pemerintah Kota Tasikmalaya, kami harapkan gedung DPRD Kabupaten Tasikmalaya dijadikan sebagai Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Tasikmalaya, karena gedung ini sangat strategis dan luas gedung dan ruang rapat sangat cocok untuk dijadikan ruang koleksi dan ruang baca perpustakaan.

 
Lokasi yang dianggap strategis berada di sekitar Masjid Agung Kota Tasikmalaya

Kata Dadang harapan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan pengunjung perpustakaan dan minat baca terhadap masyarakat Tasikmalaya di kalangan pedagang atau karyawan yang ingin membaca untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan dari manfaat membaca.

"Kalau lokasinya jauh dari pusat kota, bagaimana meningkatkan minat baca, karena selama ini yang kebanyakan hanya dari kalangan pelajar," katanya.

Sementara itu kata Dadang pengunjung perpustakaaan terhitung hingga November 2009 berkisar antara 50 hingga 60 orang setiap hari dari berbagai kalangan pelajar tingkat menengah, mahasiswa dan umum.

Ia menerangkan koleksi buku diperpustakaan daerah kota Tasikmalaya tergolong komplit berjumlah 30 ribu eksemplar buku dengan dari 10 ribu judul buku diantaranya tentang pengetahuan umum dan keagamaan.

"Buku yang ada disini itu sudah kumplit, kalau perpustakaan berada di tempat strategis maka dari kalangan pedagang dan masyarakat biasa diharapkan berkunjung," katanya.***3***

Sumber : Antara Jawa Barat News.
Feri Purnama

Selasa, 02 Maret 2010

Koleksi Kitab Hadist Perpustakaan Kota Tasikmalaya

 
Kitab Shahih Riyadusha-Shalihin


Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah


Sunan Abu Daud


Shahih Sunan Tirmidzi


Musnad Imam Ahmad


Syarah hadits Qudsi


Shahih Sunan Nasa'i


Ringkasan Shahih Bukhari
KITAB HADIST TERSEBUT DAPAT ANDA BACA DI RUANG REFERENSI PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA

Senin, 01 Maret 2010

Lokasi Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Tasikmalaya

Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Tasikmalaya berada di Kompleks Perkantoran Kota Tasikmalaya

Koleksi Kitab Hadist Perpustakaan Kota Tasikmalaya

 
Sunan Ad-Darimi


Al Muwathha' Imam Malik


Shahih Ibnu Hibban

Sunan Ad-Daruqutni


Musnad Imam Syafi'i


Shahih Riyadhush-Shalihin


Shahih Ibnu Khuzaimah 

KITAB HADIS INI ANDA DAPAT BACA DI PERPUSTAKAAN KOTA TASIKMALAYA